LEBARAN TAHUN 2010

 

 

 

Tahun ini kami nggak punya rencana khusus. Pertama tama karena jadwal cuti kerja Ayah gak memungkinkan untuk beracara lama, jadi ya jalani aja apa adanya yang penting bahagia dan selalu bersama …

Hari pertama dan juga kedua, biasanya ketiga juga, selalu jadi jatah silaturahmi kepada kerabat yang dekat.

Hari sisanya, kami ke Tangkuban Parahu, situs wisata favorit.

 

Gunung Tangkuban Parahu adalah salah satu gunung terbesar di dataran Parahyangan, adanya di utara Lembang Bandung. Udaranya sejuk banget, hamparan kebun tehnya luas, berlembah-lembah. Sepanjang jalan menuju gerbang masuknya berderet pohon pinus yang tinggi-tinggi, selang seling dengan pohon pakis raksasa.

 

 

Ketika kami berkunjung ke sana, cuaca sedang hujan. Sesekali lebat, tapi lebih banyak rintik dan masih bisa bersahabat untuk jalan-jalan menikmati pemandangan. Kabut begitu tebal turun sampai menghalangi pandang. sesekali naik ke atas seperti ada yang meniup, lalu bergerak turun lagi begitu berulang kali. Angin dingin luar biasa, maklum kami kan sudah terbiasa tinggal di Cikarang panas, hehehe.

 

 

 

 

 

Di kawasan ini ada tiga kawah besar yaitu Kawah Ratu, Kawah Domas dan Kawah Upas.

 

 

 

 

Nah, salah satu pemandangan unik yang terekam mata adalah tanaman yang mendominasinya, yakni tanaman yang daunnya akan berwarna kemerah-merahan kalau sudah tua. Warga sekitar menamainya pohon manarasa. Daun yang sudah berwarna merah bisa dimakan, katanya sih rasanya mirip daun jambu tapi sedikit berasa asam. Katanya … soalnya kami juga nggak ada yang nyoba karena nggak tahu. Daun ini katanya juga bisa jadi obat diare dan obat awet muda, hahahaha ….  Daun ini sepertinya juga dipercaya oleh masyarakat sekitar selalu dimakan oleh Dayang Sumbi yang awet muda dalam legenda terjadinya Gunung Tangkuban Perahu.

 

 

 

Banyak penjual makanan panas, mulai dari kopi, teh, cilok, apa aja deh. Bandrek juga ada, malah ini jadi ciri khas daerah ini. Dijamin kalau anda kemari saat cuaca seperti ini, hampir tiap jam perut minta diisi soalnya bawaannya lapar terus. Tipsnya jangan terlalu banyak minum sebab bikin beser, alias kepingin ke belakang terus, padahal fasilitas MCKnya masih saja belum berubah sejak beberapa tahun lalu kita terakhir kemari. Antrean panjang masih jadi pemandangan biasa di depan MCK.

 

Advertisements

LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

 ET CETERA

 

 

PHOTO STORIES AT KAMPUNG PA’GO

  • About The Village

 

 

  • Hiking For Breakfast

 

 

 

  • For Relaxing

 

 

  • For Swimming  

 

 

  • Beauty Surrounding 

 

 

 

 

LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

BAGIAN TIGA

 

TANGGAL 29 DESEMBER 2009 : RANCA UPAS

Rencana kita hari ini adalah begini : pagi sampai siang ke Ranca Upas, sorenya berenang sampe puas di penginapan. 

“Sekilas Tentang Ranca Upas”

Wana wisata (wana = hutan) yang berada di daerah Ciwidey, Bandung. Lokasinya masih satu jalan sama Kawah Putih. Namanya aja wana wisata, yang dilihat ya hutan. Dari informasi yang kubaca sebelumnya dalam kawasan itu ada bumi perkemahan dan penangkaran rusa.

Betul aja, waktu kita memasuki areal hutan yang seperti ‘out of nowhere’ saking sepi ‘gung lewang lewung’ (kata orang Jawa nih….), beberapa ratus meter ke dalam tampak areal yang khusus untuk kemah/kemping (apa to bedanya?). Ada pekemah perorangan yang membawa keluarga atau temen akrab, kelihatan dari tenda kemahnya kecil muat 3-5 orang. Mereka ini banyak yang ndirikan tenda di bawah naungan pohonan yang tinggi dalam hutan. Wih, kayanya seru deh…pengen juga sih, tapi tandatanya : mau nggak ya anak-anakku diajak ‘hidup sengsara’ kemah di tengah hutan belantara di kaki gunung gini??

Lainnya pekemah grup. Di sekeliling danau yang ada di tengah dataran yang mirip lapangan dalam lokasi, ada cukup banyak grup pekemah. Aku perhatikan mereka asalnya dari institusi. Ada yang dari kelompok beladiri dan ada dari sekolah menengah. Mungkin lagi ujian kenaikan tingkat ya….. Dilihat dari aktivitasnya, berendam di danau, lari keliling, sampe seragamnya penuh lumuran lumpur. 

Buat yang seneng wisata alam, tempat ini rasanya cocok. Bayanganku, kalau kita datang ke sana pagi-pagi sekali mungkin bisa dapat pemandangan yang lebih berkabut. Saat itu kita datang ke sana cukup siang, cuaca juga full mendung. Rusa-rusa yang ditangkarkan di sanapun malu-malu menampakkan diri. Jadi kita cuma bisa liat mereka ngintipin kita ( atau kita yang ngintip mereka, tergantung dilihat dari sudut pandang mana…) dari atas semacam dek buat pengunjung.

“…ATV??”

Keluar dari bumi perkemahan Ranca Upas, di perjalanan muncul keinginan mendadak Ayah njajal ATV-nya Patuha Resort. Resor ini letaknya di lereng pegunungan, gerbang masuknya track ATV. Kata Ayah, biar liburannya lebih ‘nendang’……….

Siapa aja yang mau ikutan? Aku emoh! Ntar tensinya naik gawat……. Putri, palagi…..dia nih kurang cocok sama permainan ekstrim. Nah…Nisa ya? Tadinya nggak mau dia, eh setelah dibujuk rayu sama yang lain-lain mau juga. Sebenernya dia nih malu-malu aja tapi dalam hatinya keliatan kalo penasaran…..hehehe.

“Nggak papa Ade, untuk anak ada nih ATV yang matik, tinggal gas-rem aja kok gampang…..coba dulu kalo susah nanti gak jadi gak papa….” dirayu lagi dia sama yang mandu ATV. Hah? ATV matik? Ooooh, jadi ada ya? Ndeso, baru tahu nih. Ya udah nggak usah boncengan sama Ayah deh, aku kok ngeri, secara Ayah aja baru pegang kali ini, ntar kalo terguling gimana kan kasian yang dibonceng. Gimana Nis, mau??

Sebelum menuju ‘medan laga’, ‘prajurit ATV’ dilengkapi dulu dengan kostum keamanan berupa sepatu boot karet yang tinggi dan helm pengaman kepala.

Nah sebelum menuju medan yang sesungguhnya, harus belajar dulu ngendaliin ATV, maklum pengalaman pertama……… ATV yang dipake Ayah manual, katanya berat, susah dikendaliin. Belum biasa. Beberapa kali putaran latihan, beberapa kali pula hampir terguling. “Kalo jalan nanjak jangan direm…” kata pemandunya. “Kaki usahakan jangan menyentuh tanah…” katanya lagi. Tapi lumayanlah secara baru sekali-kalinya. Maju terus Yah!!

Nisa dapet ATV matik, kendaraannya lebih kecil dari yang dinaikin Ayah. Cara nyetirnya lebih gampang, tinggal gas-rem kaya naik mionya Ibu. Tapi…tetep aja grogi dia. Awalnya mules dulu…….stress kemudian. Hihihi…… Tenang Nis, maju teruuuus!

Nah, sudah cukup latihannya. It’s party time!!! Huaaaahahaha….tolooong!

Mereka berdua memasuku garis start pelan-pelan. Nggak tahu medan seperti apa yang akan dilewati di depan sana…… Satu koma enam km jalan penuh tikungan, tanjakan dan turunan curam, oleh dua orang nekat yang baru pertama nyobain ATV!

Ayah jalan duluan, diikuti pemandu. Jarak 50 meter kemudian baru Nisa, juga diikuti pemandu. Satu menit kemudian suara mesin ATV mereka sudah nggak kedengeran lagi. Waduh, kemana ya mereka? Apa yang terjadi ya? Nyemplung jurang gak ya? Atau nyusrug ke kebun stroberi orang gak ya? Waduh…kok nggak ada suaranya ya…kok lama ya….. Nggak keliaatan sih???

Sekitar 5-10 menitan kemudian, lupa juga pastinya, nunggu rasanya lama tapi nggak bisa jadi ukuran juga, terlalu subyektif. Suara ATV mulai kedengeran mendekat. Nah itu pasti Ayah……..horrrreeeee! Sampai juga ke tempat datar. Gimana Yah, asyik ngga?

Peserta kedua nggak muncul-muncul di garis finish. Waduh kenapa ya nih anak, jangan-jangan nangis lagi. Nyangkut dimana ya? Kalau menurut Ayah yang udah sampe duluan, treknya gila-gilaan buat pemula, pasti Nisa nangis. Ah masa sih separah itu ya?

Samar samar mulai kedengeran suara ATV, nah tu dia anaknya………. Masih dalam posisi duduk di atas kendaraan. Berarti kelihatannya sukses nih. Horrreee……Nisa finish! Gimana Nis, kapok?

Haduuhh…cape kan? Pulang yuk tidur dulu, katanya ntar sore masih mau berenang?

 

“Kursus Singkat Berenang…”

Cuaca sore seperti yang sudah-sudah, kabut merayap turun. Suhu makin malam makin kecil derajatnya. Bangun tidur langsung pake baju renang menyerbu kolam, tapi sebelumnya pemanasan dulu di pinggir kolam takutnya kram.

Setelah nyebur-nyebur dikit nyobain air, anak-anak dipaksa paksa naik seluncuran dulu. Masa nggak berani sih kan pendek, nggak setinggi di Waterboom. Ayu Put! Eh tumben dia mau duluan….. Waaaaaaaa…..!!!

Puas beberapa kali nyobain seluncuran kolam mulai rame. Yang mau berenang mulai berdatangan ngantri di seluncur. Pelajaran dilanjut aja : memahami perilaku ikan…… Inilah keluarga ikan yang sedang mempelajari kehidupan nenek moyangnya……..

Perhatikan perubahan pemandangan dilihat dari Kampung Pa’go ketika kabut beranjak turun……..

LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

BAGIAN  DUA

TANGGAL 28 DESEMBER 2009 : DANAU KAWAH PUTIH

Acara utama kita hari ini yaitu menuju Kawah Putih.

Sarapan dulu, setelah kenyang trus berangkat. Semalem di penginapan baru sadar ternyata tas berisi jaket yang sudah disiapin ketinggalan di Cikarang!! …….:(-…. Dari semalem aku udah kedinginan berat. Maklum penyesuaian suhu, biasa di Cikarang panas membakar trus pindah seketika ke gunung yang dingin. Ndeso..ndeso….. Untungnya selimut cukup tebel jadi lumayan anget.

Jarak tempuh dari Kampung Pa’go ke Kawah Putih nggak jauh, sekitar 20 menitan kalau lancar nggak pake macet. Sampai di Kawah Putih kabut merayap turun menyambut kita…….hwiiii, duingggin! Aku dan anak-anak  terpaksa cari penjual jaket, nggaaak kuaaat booo……nggak nyangka bakal sedingin ini efeknya buat orang Cikarang!  Untung disana banyak yang jual. Jaket, switer, syal rajut, topi rajut, ya pokoknya keperluan penghangat badan komplit. Jangan lupa tawar-menawar dulu, seni berbelanja khas Indonesia (mungkin). Makanya, buat yang mau ke Kawah Putih terutama di bulan-bulan dingin begini jangan lupa : JAKET!

Turun dari mobil udah pas waktunya makan siang. Syukurlah di parkiran berderet warung makan dan suvenir, tinggal pilih menu aja……….Aku pilih menu yang kayanya lokal banget : mi kocok kaki sapi khas Bandung, gitu judul yang dipajang, tapi ternyata setelah dihidangkan nggak ada kakinya….malah mi kocok daging sapi. Tapi sumpah uenak! Potongan dagingnya empuk dan royal, togenya banyak, kuahnya gurih. Porsinya banyak, menurut ukuran aku sih, yang kalo di Cikarang pasti aku gak bakal kuat ngabisin….ternyata salah cin, ludes! Memang cocoknya mungkin makan mi kocok ya di habitat aslinya yang cuaca dingin begitu. Maknyuzz… Minumnya bandrek, wah jann…cucok bo!

Naah…habis itu kita turun ke Kawah Putih….yuuuuk pembaca.

Oya, jangan lupa ya..supaya nggak ‘beser’ bagusnya buang air kecil dulu! Fasilitas toilet ada, bagus, bersih, tapi kurang banyak! Antrean cukup panjang waktu itu, padahal pengunjung nggak terlalu penuh. Bayangin kalo pas rame gimana tuh, bisa nahan pipis lama-lama di tempat dingin gitu? Ih, mules …… Usul saya ditambah toiletnya Pak, Bu….

Dari tempat parkir mobil turun ke kawah nggak jauh, paling cuma 50 meteran. Keliatan kok kawahnya dari atas. Tapi tetap harus hati-hati sebab turunan cukup terjal, plus oksigen yang tipis bisa bikin kepala agak puyeng. Bau gas belerang sudah tercium dari sini. Pakai alas kaki yang nyaman, jangan pakai sendal hak tinggi, mending sendal jepit aja…..atau sepatu ket. Ini wisata alam bukan wisata nampang…..nobody cares what d’you look like…..sing penting nyaman, enak, nggak bikin kaki pegel.

 

“Sekilas Tentang Kawah Putih”

Kawah Putih adalah tempat wisata di Bandung Selatan, suatu kawah yang  terbentuk dari letusan Gunung Patuha di abad ke-10 dan ke-12. Hawanya yang dingin (sekitar 8-22 derajat) harap dimaklumi sebab letak geografisnya sekitar 2000-an meter dpl. Yang pertama menemukan kawah ini dulunya adalah seorang ahli botani Belanda. Penduduk sekita Ciwidey dulunya nggak mau datang ke gunung Patuha apalagi ke kawasan kawah karena dianggap daerah angker. Saking angker dan keramatnya bahkan burung aja nggak mau terbang melintas, kalaupun burung itu nekat pasti dia mati.

Ali botani itu juga yang menyimpulkan pada penelitiannya kalau kadar belerang di daerah itu sangat tinggi. Itu rupanya yang jadi alasan kenapa burung yang terbang melintasi kawah jatuh dan mati, gas belerangnya! Jadi bukan karena angkernya…… Kesannya dulu angker mungkin juga karena nggak didatangi orang, sepi buanget jadi kan serem. Nah kalo sekarang mah…ruame pisan euy!!

 

“Eks Tambang Belerang” 

Tingginya kadar belerang di Kawah Putih, membuat pemerintah Kolonial Belanda pada masanya membuka tambang batu belerang di tempat itu. Tambang ini beralih ke pemerintahan Jepang pada jamannya. Sekarang sih tambangnya udah ditutup, tapi kita masih bisa liat pintu tambangnya yang ditutup seadanya dengan batang-batang kayu. Di depan pintu tambang yang ditutup itu memang tercium bau belerang yang suangat menyengat, makanya tidak disarankan berlama-lama di depannya, nanti bisa sesak napas karena kekurangan oksigen. Menurut penglihatanku pribadi, celah yang menutup pintu masuk eks tambang itu kurang sempit deh…..suka ada anak yang iseng masuk ke dalamnya, wong muat kok…….. Harap yang berwenang mencek lagi, supaya lebih aman aja…….

 

“Air Kawah Berubah Warna”

Katanya, warna danau Kawah Putih itu bisa berubah tergantung saat apa kita melihatnya. Sebenarnya secara ilmiahnya sih perubahan warna ini menunjukkan kadar mineral kawah pada saat itu. Dan ini dapat berubah tiap saat. Pas kami sampai sana, warna danaunya hijau kebiruan, ada uap belerang yang mengapung di atasnya. Menurut cerita orang, lain waktu warna air danau bisa menjadi coklat keruh. Pasir yang terhampar di sana dan juga bebatuannya dominan berwarna putih, jadi makanya penduduk sekitar menyebut danau itu Kawah Putih.

Lama kita nongkrong di tepi danau Kawah Putih, rasanya belum juga puas, belum ‘rela’ cabut dari sana merenungi secuil bentuk bumi kita yang tambah tua aja dan nyaris kolaps ditelan pemanasan global…… apa yang kan terjadi nanti dengan danau ini?? Apakah kurang banyak orang yang pernah tercenung di hadapan ciptaan Allah sampai dasar hati mereka muncul ke permukaan, untuk menyadari kalau awal mulanya sebelum peradaban begini maju, seperti inilah kira-kira bumi yang kita injak ini : murni, indah, sejuk, sunyi dari polusi, merdeka dalam alamnya sendiri……..

Kabut datang turun membawa serpihan air,  tak lama lalu ia naik lagi menyelinapkan sinar matahari, sampai kemudian ia turun lagi. Kita masih aja asik duduk di pinggir danau, memandang ke atas ke tebing batu tinggi yang melingkupi satu sisi kawah, trus ke rimbunan hutan yang melingkupinya di sisi lain, sehingga aku melihat kalau danau ini berada di satu cekungan bumi…… lama-lama kok aku jadi inget filmnya Leonardo Dicaprio jaman duluuu buanget…judulnya The Beach. Rasa-rasanya suasananya mirip banget sama waktu Dicaprio menemukan pantai tersembunyi di pedalaman Thailand…..ca’elah, lebay ya… Iya lho, nyaris mirip. Suasananya, heningnya, keindahan yang tertangkap……O-M-G!!

Nah, buat yang akan ke Kawah Putih untuk pertama kali, anda gak perlu khawatir tempat ini akan sulit ditempuh. Jalan menuju pintu masuk daerah wisata Kawah Putih sangat bagus mulus aspal. Begitu pula jalan dari gerbang menuju lokasi danau mulus walau sempit dan berliku, namanya juga di tepi gunung coy! Tapi kalau boleh usul mungkin nggak kalau agak dilebarin dikit, soalnya kalau dilewati mobil papasan dua arah nggak muat, harus saling ngalah. Kalau anda kesana dengan kendaraan umum atau rombongan, dari gerbang menuju kawah ada angkutan mobil.

Sampai di lokasi parkir dekat danau, jalan turun menuju pinggir danau juga bagus banget, nyaman. Aku liat banyak juga manula yang kuat jalan naik-turun kawah..hebat! Satu-satunya kritik adalah sampah yang dibuang asal lempar, terutama sampah kemasan plastik aneka warna yang sudah pasti sangat mengganggu pandangan mata.  Nah kalo ini sih memang ulah pengunjung yang perlu dididik ulang kayanya…………..Padahal  kotak sampah udah disediakan di tiap sudut, dan kulihat juga nggak penuh kok……. Jadi??  

 

“Yang Boleh Dicoba…”

Sebelum cabut, naik kembali ke parkiran kita nyambangi kios yang berderet. Ada yang jual makan, suvenir khas, stroberi segar, tapi yang menarik kita dan tampilan serta provokasinya paling boleh adalah sate stroberi segar yang dicelup ke dalam cairan coklat. Ada bermacam warna : coklat, oranye, pink dan bluberi. Penjualnya ngasih harga 10 ribu untuk seporsi isi 3 tusuk sate stroberi. Satu tusuk isinya tiga atau empat buah stroberi tergantung besarnya buah. Tapi bukan ibu-ibu namanya kalo nggak usaha..tawar cin! Dapat bonus satu jadi bisa dapat 4 tusuk. Coklatnya cair, tapi nggak berapa lama setelah stroberinya dicelupin coklat cair tadi membeku. Atasnya digarnis meises warna-warni. Menarik! Anak-anak suka…….tadinya aku males nyoba, ah! makanan anak-anak. Gak taunya enak banget, maknyuzzz….rasa asem stroberinya ketutup manisnya coklat tadi, enak nggak kecut.

Alternatif dari stroberi ada marshmallow. But I prefer strawberry for best taste!! Rasanya unik, perpaduan asam dengan manis sekali kunyah.

Camilan lainnya yang nggak kalah provokatif adalah jagung bakar. Murah meriah, enak, cocok dibuat camilan di hawa dingin. Dijamin nggak kan cukup satu. Cuma 3000 perak, bakar atau rebus sama. Mau rasa manis? Pedas? Asin? Minumannya, tentu aja bandrek, minuman khas daerah Jawa Barat yang bahan utamanya jahe dan gula merah, ditambah rempah-rempah yang racikannya berbeda tergantung daerahnya. Bandrek bisa tambah susu lebih gurih.

LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

BAGIAN SATU

 

Usai terima rapor, lumayan panjang juga libur anak sekolah. Dua minggu!! Sayang kalau cuma dilewatkan dengan diam-diam di rumah. Manteng depan komputer terus, nggak nambah wawasan. Kita sudah ada rencana sih meskipun belum pasti jadi enggaknya, tergantung kepastian cuti Ayah…….tapi pada akhirnya alhamdulillah inilah jadinya acara liburan keluarga tahun ini, bertepatan dengan tutup tahun 2009:

 TANGGAL 27 DESEMBER 2009 : SITU PATENGAN

Setelah usaha beberapa hari browsing cari tempat nginep, akhirnya pilihan kita jatuh ke suatu tempat penginapan bernama Kampung Pa’go, tak jauh dari tempat yang mau kami datangi : Kawah Putih Ciwidey, di daerah Bandung Selatan. Tepatnya di Jl. Raya Soreang Ciwidey sebelah kiri jalan. Beruntung kita dapat kamar, secara bookingnya mepet menjelang akhir tahun. Hari ini kita cabut dari Cikarang santai, agak siang, sarapan dulu makan soto surabaya di pasar passimal. Cuaca sangat-sangat cerah, jadi bikin aku ngantuk berat sehabis sarapan tadi….maka di mobil aku tidur pulesss les lesss….zZzzz….zZzzZz…..tahu tahu sudah keluar tol Kopo!

Perjalanan ternyata lancar walau padat, sampai lokasi jam baru menunjuk angka 11 kurang! Lho kok cepet juga ya? Turun dari mobil disambar angin yang dingin menggigit, angin yang bertiup di lereng gunung yang subur. Suhu dalam mobil dengan kondisi mati AC 22 derajat. Sepanjang perjalanan tadi melewati lereng, pemandangan didominasi kebun stroberi, daun bawang dan daun seledri. Banyak kebun yang menawarkan petik stroberi sendiri. Di beberapa tempat nampak sudah panen daun bawang dan seledri, diangkut mobil bak mungkin menuju pasar besar Ciwidey. Aroma pedes daun bawang mengambang di udara. Dalam hati mbatin, kok nggak ada ya yang membuka wisata petik daun bawang sendiri???!!

 

“Jalur Wisata Ciwidey : Jalur Wisata Alternatif  Yang Belum Banyak Dikenal”

Perjalanan menuju Kampung Pa’go saja  sudah merupakan wisata tersendiri, pemandangan kiri kanan lereng pegunungan sepanjang jalur perjalanan indah banget, hijau subur, hawa sejuk dingin, lekuk liku geografisnya cantik banget. …..Nggak kalah dengan jalur wisata Puncak yang terkenal itu…. Malahan menurutku jalur ini punya kekhasan sendiri yang unik, dominasi tanaman kebunnya tadi itu : stroberi, daun bawang, daun seledri. Buat yang senang wisata menelusuri jalur Puncak, coba deh jalur ini sebagai alternatif wisata, pasti anda akan sependapat dengan saya!

Tiba di Kampung Pa’go ada masalah sedikit yang sama sekali tak diharapkan. Kamar yang kita pesan ternyata belum dikosongkan sehingga kita nggak bisa langsung masuk kamar : istirahat. Oleh mereka dijanjikan jam 2 siang nanti kamar yang kami booking sudah akan dikosongkan. Lha terus kita gimana ini?? Mereka menyarankan kalau mau kita bisa jalan-jalan dulu ke ‘atas’. Menuruti saran itu, kita gas lagi mobilnya, walau sebenernya kita sangat berharap bisa istirahat dulu nglurusin kaki, mandi mungkin, ………duhhh enaknya ngebayangin……..tapi sutralah dibikin santai aja…….

…dan Tuhan memang Maha Baik. Kekecewaan kita langsung diobati oleh-Nya, instan! Pemandangan kiri-kanan jalan itu lho asiiik banget, ngobati kekecewaan kita barusan. Ijo royo-royo! Mata jadi segerrr……   Harap buka saja kaca mobil sebab udara di luar sudah melebihi dinginnya AC! Walaupun kecewa karena tak bisa langsung geletakan nglurusin kaki di kasur, ternyata  perjalanan itu bikin kita seger lagi. Ini baru pertama kali kita lewat daerah itu, jadi surprising banget! Yang namanya jalanan tuh nggak ada yang lurus, belokan semua. Mana ngeri juga sebelah kanan bibir jurangnya tipis, jalannya juga sempit banget. Dua jalur yang pas-pasan, udah gitu nggak ada pengaman sama sekali di sepanjang tepi jurang. Wiiih..ngeri, nggak boleh meleng dikit bisa nyebur! Trus aku perhatiin nggak ada juga mata kucing sepanjang jalan, gimana kalo malem yach…nyetir ngantuk dikit lewat deh…..! Wiii…ngeri ah!!

Memasuki kawasan hutan eucaliptus, Kawah Putih sudah kita lewati gerbangnya, nggak masuk dulu sebab rencananya memang baru akan besok. Mobil terus melaju melewati Ranca Upas, Cimanggu, ujung-ujungnya ke Situ Patengan kita masuk. Bayarnya sangat murah, pemandangan alamnya luarrr biasssaaa….. Aaaahhhhh, brenti dulu ah…..

 

“Legenda Batu Cinta”

Situ Patengan atau bisa juga disebut Situ Patenggang, adalah sebuah danau alami, berada di kaki gunung Patuha Bandung, ketinggian sekitar 1600 dpl. Konon situ ini terbentuk dari air mata seorang gadis gunung yang menangisi kekasihnya yang tak kunjung datang, seorang pangeran. Mereka saling  jatuh cinta tetapi pada saat itu terjadi perang yang memaksa mereka berpisah. Nah, konon di tempat itulah mereka akhirnya bertemu kembali, di suatu sudut yang sekarang dinamai Batu Cinta….cihhhuyyyy……… Konon lagi, katanya, pasangan kekasih yang mengunjungi lokasi Batu Cinta kelak akan abadi alias langgeng hubungan cintanya…. Anda percaya???

Sesampai di Situ Patengan pas jam makan siang, jadi kita makan dulu di lokasi. Ada warung berderet menyajikan menu yang sama : sate & gule. Tapi minuman khasnya pasti adalah : bandrek. Lebih gurih kalau tambah susu, jadi namanya : bansus, bandrek susu. Cucok bener deh…ngangetin badan di hawa yang lumayan dingin.

Tak lama kita makan eh, hujan deresss banget. Yah…harap-harap cemas semoga hujan cepat reda biar kita bisa keliling danau.

Lama juga hujan baru reda, itupun yang dibilang reda masih sisa gerimis halus. Kita langsung sewa perahu mengelilingi danau. Perahunya banyak, bisa disewa per perahu atau bisa juga per orang. Kalau mau perorangan biayanya 15 ribu seorang, nunggu sampai muatan penuh dulu. Kalau mau sewa per perahu untuk sendiri, baiknya ditawar dulu. Harga dibuka 150 ribu, kenanya 100 ribu. Kita sewa satu perahu supaya lebih bebas, lebih lama ngikutin maunya kita. Bisa lebih puas ambil gambar, lebih lama singgah di Batu Cinta, dan lebih-lebih lainnya, misalnya mau menepi di bagian danau sebelah mana, pendayung perahunya akan nurutin kita. Malahan dia juga ngasih saran kemena-kemananya……. 

 

 

“Hujan Jatuh Di Atas Situ Patengan”

Perahu melaju…eh, hujan deras lagiii….perahunya bocor di sana-sini….wahh serrruuuu….. Nuansa danau di waktu hujan deres begitu malah jadi bagus banget, berkabut dan muram. Jadi..pengen berlama-lama nih…..

 

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

Mind Release

Relax is the key to the higher conscience

ocehan

Just another WordPress.com site

Mata, Rasa & Kata Muadzin

Wadah. Agar tertampung. Tak terbuang.