POSYANDU

PERAYAAN ULANG TAHUN POSYANDU

 

Hari Senin tgl. 14 Juni 2010 yang lalu, dalam rangka perayaan ulang tahun Posyandu di RW tempat tinggalku di Cikarang Baru, kami buat acara sederhana untuk menyenangkan hati anak-anak terutama balita. Tapi di sisi lain, acara ini juga dibuat untuk menambah pengetahuan ibu-ibunya, sekaligus menyenangkan hati dan isi kantong mereka pula … Hmmm, boleh juga kan acara ini ? Sekali dayung banyak lapisan usia yang terbahagiakan …

Buat sasaran utama acara ini yaitu anak-anak, kita undang penghibur yang memang jagonya ‘megang’ anak-anak kecil : badut-badut sulap. Mereka komunikatif banget, dan sangat siap dengan macam-macam cara untuk membuat anak tersita perhatiannya. umumnya anak-anak itu sangat senang dan jadi berani tampil, tapi ada juga beberapa yang takut sama Om Badut …

 

Nah, setelah anak-anak itu tersita perhatiannya ke si Om Badut yang kocak, giliran para Ibu yang ‘digarap’ … hehehe. Sementara itu anak-anak menuju tempat rahasia supaya tidak mengganggu acara penyuluhan buat kaum Ibu … ayo Om, cabuuut !!!!

 

… sementara itu di suatu tempat rahasia, anak-anak terpisah dari ibu-ibunya setelah ‘diculik’ oleh Om Badut …

 

Sambil mendengar penjelasan seputar susu dan balita, ibu-ibu bisa belanja stok susu buat balitanya di konter yang sudah siap melayani pembeli hari itu. Murah nih, jauh di bawah harga pasar !! Ayo borong ….

 

Alhamdulillah …. Acara usai tepat sesuai jadwal yang direncanakan … anak-anak senang, ibu-ibunya juga riang, tinggallah para kru dan pengurus Posyandu yang letih tapi puas. Oke deh, mejeng dulu ya … klik !! Lho, udah tho, nggak terasa ah ….

Sampai jumpa semuanya, semoga kelak kami bisa buat acara semacam ini yang lebih dalam segala-galanya …………….

 

Ucapan terima kasih kepada :

* PT Nestle Indonesia.

* Seluruh kru roadshow yang terlibat.

* Seluruh pengurus Posyandu RW 08 Kelurahan Jayamukti Cikarang Baru.

* Seluruh warga yang turut meramaikan acara ini.

http://www.facebook.com/profile.php?id=100000494596049

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

ASTANA BIBIS LUHUR, SURAKARTA HADININGRAT

Pintu gerbang masuk pemakaman keluarga Astana Bibis Luhur, Solo

Kita sampai di Solo, Bandara Adi Soemarmo, sekitar jam 8 pagi. Berfoto sejenak untuk dokumentasi

 

Di depan rumah kediaman Om Gun Solo, menanti keberangkatan menuju makam

 

Menaikkan ke dalam mobil segala keperluan yang hendak dibawa ke makam Menunggu prosesi pemakaman ; Krisna membawa abu jenazah Papa.

Krisna membawa abu jenazah Papa ; menantikan dimulainya prosesi pemakaman

Pak Uztad memimpin doa sebelum abu jenazah dimakamkan.

 

Abu jenazah dalam bungkus kain kafan putih diletakkan pada posisinya dengan hati-hati.

 

Prosesi memasukkan tanah ke dalam liang makam

 

Mama menaburkan bunga mawar ke dalam liang makam Papa sebelum diurug rata kembali.

 

Krisna

Aku

Ayah

Tante Pung

Eko Wahyu

Wisnu Setelah semua yang hadir menaburkan bunga, liang makam diurug hingga rata

Setelah bunga ditaburkan, makam ditutup dengan tanah kembali hingga rata

 

Tanah diratakan, dipadatkan, kemudian nisan ditancapkan pada kedua ujung makam

Pekerjaan merapikan dilakukan oleh para pekerja penggali makam dalam suasana khidmat

Tulisan pada nisan Papa, sebagai penanda dan pengingat bagi kerabat, teman dan keturunannya

Prosesi berikutnya setelah kedua nisan tertanam kokoh adalah memecah sebutir kelapa muda, airnya langsung disiramkan di posisi kepala

 

Mama menaburkan bunga mawar di atas pusara Papa

 

Aku

 

Tante Pung, Wisnu, Eko Wahyu, menaburkan sekeranjang bunga mawar di pusara Papa

 

Semua kerabat dan teman yang hadir mengamini doa bersama yang dipimpin oleh Pak Uztad, mengakhiri prosesi pemakaman abu jenazah Papa

 

Rumah baru Papa

 

Sebelum meninggalkan pusara Papa, Ayah dan Pak Irwan menyempatkan membasahi pusara dengan beberapa siraman air

 

Diskusi spiritual di kediaman Om Gun, Solo

 

 

Beberapa Bulan Kemudian

 

Bulan November tahun yang sama, Mama dan Krisna punya kesempatan nyekar sedangkan aku masih menunggu waktu dan lain-lain …

Seperti ini kondisi makamnya :

 

Kondisi makam di bulan November 2010

TANAMAN WIJAYA KUSUMA

Tanaman wijaya kusuma termasuk dalam famili kaktus. Menurut para ahli botani, tanaman ini asalnya dari hutan tropis di  Amerika Selatan. Ia mampu hidup di daerah yang bersuhu sedang hingga tropis.

Bagian batang dan daun pada tanaman ini baru dapat dilihat bedanya setelah ia berumur cukup tua. Daun berbentuk pipih, halus tanpa duri, warnanya hijau, ada tulang daun di tengahnya. Sekeliling tepi daun ada lekukan-lekukan tempat bakal daun atau bakal bunga muncul. Daun yang menua akan mengeras dan mengecil membentuk batang tanaman.

Aku punya tanaman ini sudah beberapa tahun, lupa persisnya dari kapan, ambil bibit steknya dari punya Om di Karawang. Ya, gampang sekali cara pembiakan tanaman ini, seperti kaktus umumnya deh! Cukup stek batang atau daun aja. Kalau sukses, beberapa minggu akan muncul bakal daun di lekukannya. Ia akan tumbuh memanjang terus, jadi baiknya dikasih senderan supaya nggak rubuh, atau diikat di pagar. Kalau nggak mau tumbuh tinggi, harus rajin dipotong. Jangan dibuang potongannya! Sayang, tanam aja lagi biar berumpun nanti.

Seingatku ia sudah beberapa kali berbunga. Setahun bisa sampai dua kali, tergantung cuaca sih kayanya. Nah, sudah dua bulan ini Cikarang hampir tiap hari hujan, kadang deres, seringnya rintik-rintik. Kalaupun nggak hujan, pasti mendung seharian. Cuaca seperti itu bikin udara sehari-hari jadi ekstra dingin. Ini memicu tanaman menumbuhkan bunga.

Bunga Wijaya Kusuma

Bunga wijaya kusuma tidak mudah munculnya, tergantung pada iklim, kesuburan tanah dan cara pemeliharaan. Oya, mungkin juga tergantung siapa pemilik tanaman……he. Ini sih kata orang lho!

Bunga akan merekah hanya satu kali saja. Perhatikan : HANYA SATU KALI SAJA!! Waktu merekahnya dimulai pada menjelang tengah malam. Pada waktu ia merekah penuh, yaitu pas tengah malam, diameternya mencapai 10-15 sentimeter. Kelopak bunga warnanya putih bersih. Saat  mekar ia mengeluarkan bau yang amat wangi….(*hiiiii…). Semakin menjelang pagi ia makin menguncup kembali, dan takkan mekar lagi untuk selama-lamanya…..

Proses Mekarnya Si Bunga Langka

Seperti inilah keadaan bunga wijaya kusuma yang akan mekar malam harinya. Hari itu seharian Cikarang hujan rintik-rintik. Tanaman dan bunga yang aku taruh dibawah naungan pohon basah. 

Hari masih  jam 7.30 malam, tapi bunga sudah menunjukkan tanda-tanda mulai merekah. Lihat kuncup mulai membuka. Ini rasanya pengaruh dari cuaca yang sedang musim hujan, sangat dingin dan lembab, sehingga mempengaruhi awal proses mekar bunga ini. Waktu cuaca nggak sedingin ini,  biasanya dia baru menunjukkan tanda akan mekar sekitar jam 10 malam.

Selang satu jam berikutnya rekahan semakin lebar. Ini benar-benar cepat. Biasanya diluar musim penghujan posisi bunga seperti ini ini dicapai sekitar jam 11 lewat. Dalam keadaan kaya gini, bau wanginya sudah tercium. Nggak perlu deketin hidung ke kelopak, wong jarak beberapa meter aja udah kecium wanginya….uhmmm.

Belum jam sepuluh malam tapi bunga wijaya kusuma sudah mendekati mekar sempurna….hebat!! Ini artinya dia akan mengalami fase merekah sempurna yang lama juga nih, lebih dari dua-tiga jam.

Betul kan? Belum jam 12 malam tapi bunga sudah mekar sempurna. Coba kita lihat…

Hari makin malam, cuaca diluar juga makin dingin dan angin juga lumayan kenceng. Titik hujan masih sesekali membagi basahnya.

Hoahhhemm! Ngantuuk berat. Nggak tahan lagi, aku tidur aja deh. Kita lihat besok pagi akan seperti apa dia….

 

“Heavenly Beautiful”

LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

 ET CETERA

 

 

PHOTO STORIES AT KAMPUNG PA’GO

  • About The Village

 

 

  • Hiking For Breakfast

 

 

 

  • For Relaxing

 

 

  • For Swimming  

 

 

  • Beauty Surrounding 

 

 

 

 

LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

 

ET CETERA

 

 

TANGGAL 30 DESEMBER 2009 : SAUNG ANGKLUNG MANG UDJO

Dua hari lagi menuju pergantian tahun 2009. Kita sudah tiga hari keliling Ciwidey. Puas sih belum, relatif. Kalau ada yang tanya ke aku, masih mau nggak kapan-kapan kemari lagi? Jawabnya : mau! Banget! Kenapa? Sebab suasana daerah sini aku suka. Pegunungannya, pemandangan hamparan kebunnya, kabutnya, dingin sejuknya, makanan khasnya, buat aku semuanya ngangenin. Ngeliat pegunungan membuka gambar baru tentang bumi yang kita injak sehari-hari, yang datar, beralas semen, keramik, berpagar beton, berangin dingin AC, kipas angin….. Gambar yang sekarang lebih indah, membumi, natural, murni, tak tersentuh teknologi moderen. Gambaran bumi kita di waktu dulu……

Jadi, ngapain kita hari ini? 

Ayah sudah punya rencana idamannya : ke Bandung. Lokasi tepatnya ke Saung Angklung Mang Udjo, di daerah Bandung Timur di jl. Padasuka. Rasa-rasanya Ayah terlalu penasaran sama tempat itu. Puter-puter kita cari lokasinya, sampai keliling dua kali di jalan yang sama! Hhhh…syukur alhamdulillah ketemu, masa enggak sih.

Sebelum masuk pintu pagar tempat ini, nggak terbayang kalau suasana di dalamnya akan rimbun dan teduh banget. Kejutan yang menyenangkan! Umpama dijadikan penginapan pun bagus. Suasana tempatnya ditata cantik, dirimbuni rumpun bambu dimana-mana sehingga teduh dan ‘homy’. Setitik oase di tengah hiruk pikuk kota Bandung, begitulah kira-kira. 

Di banyak tempat di areal ini dibangun saung dari bambu, lesehan atau juga ada yang dikasih seperangkat meja kursi, dari bambu tentunya. Ada semacam auditorium di tengah lokasi, yang sepertinya dipakai acara pementasan-pementasan yang melibatkan alat musik bambu. Ada perangkat lengkap angklung dan alat musik sejenis yang terbuat dari bambu juga di pangung. Dilengkapi pula sound sistem dan tata cahaya panggung. Katanya, tiap sore jam empat ada pertunjukan. Mungkin nanti kita nonton ya…..

Masuk lebih dalam suasana seperti di pedesaan jaman dulu. Hahhh….?? Ada sumur timba di tengah lapangan rumput, ada timbanya beneran, siapapun boleh bernostalgia : nimba cin…yuuuk. Habis mandi isi lagi kolamnya sampai penuh….hehehe…..itu cerita jaman dulu tahun 80-an. Dan di abad 20 ini masih ada disini jejaknya, di tengah kota besar!

Di satu sudut ada kandang kambing tradisional berbentuk panggung. Kambingnya mengembik-embik kalau kita datangi…hihihi, mungkin dia negur kita ya : “hei, ngapain sih kemari-mari….ganggu aku lagi santai aja….!”  Temannya si kambing juga ada, ayam kate berkeliaran di kebun.

Di mana-mana di atap saung dijalari tanaman rambat yang berbunga cantik dan kontras dengan hijau yang dominan disini. Jalan setapak disusun dari batu-batu alam yang tak beraturan bentuknya. Suara gemericik air datang dari satu sudut curug kecil alami. Lumut tumbuh di banyak tempat, di tanah dan di atas batu.

Nggak cuma tanaman yang jadi penduduk tempat ini, dekat toko suvenir ada kandang binatang isinya…kalong! Kasian cuma satu……..kan jadi nggak ada temen ngobrolnya, hehe…….

Duduk di salah satu bangunan saung, betah rasanya berlama-lama, meluruskan kaki sekaligus pikiran yang seliweran. Nggak perlu tukang pijit refleksi. Nggak perlu mandi air anget. Cukup segelas bandrek anget disruput pelan-pelan……wihhhhhh….sedddappp!  

Di tempat inipun kita bisa lihat langsung pembuatan alat musik tradisional Jawa  Barat, angklung. Bahkan kalau minat boleh beli langsung sebagai cinderamata. Berbagai kerajinan tangan terbuat dari bambu juga dijual di tempat ini, mulai dai gantungan kunci berbentuk angklung, anyaman yang dibuat dompet, tas, sendal jepit, batik khas corak Jawa Baratan, boneka wayang golek dan juga ada bermacam  hiasan dari ukiran kayu berbentuk bingkai cermin, binatang dan topeng. Semua benda berlabel “saung angklung mang udjo”.

Kalau perut dah mulai merintih, di dalam lokasi dekat pintu masuk ada rumah makan kecil, hampir nggak kelihatan. Ada dibalik tembok bata yang sudah penuh tertutup tanaman jalar warna ijo. Nggak ada tanda atau tulisannya dan kelihatannya sengaja dibuat begitu. Waktu kita kesana, menu yang tersisa tinggal ayam tulang lunak. Bolehlah! Tambah sambel dan lalapan, nasinya anget, perutnya laper…….nggak ada alasan nolak. Ada kolam ikan koi segipanjang menyambut kita masuk ke tempat makan.

  

Pulang. Hujan. Dingin. Ngantuk.

Ayah masih ngajak ke Babe. Nisa udah merengek capek….

Maghrib lewat, laper. Makan dimana ya? Coba Roemah Keboen…. Menunya komplit dari Asia, Eropa, Amerika. Enak…..no comment! Besok-besok kesini lagi eksplorasi menu.

 

BERITA DUKA

Hari ini telah berpulang ke rahmatullah, mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid. Semoga perjalanan beliau lancar menuju-Nya. Naikkan bendera merah putih setengah tiang tanda berkabung selama 7 hari penuh untuk menghormatinya. 

LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

BAGIAN TIGA

 

TANGGAL 29 DESEMBER 2009 : RANCA UPAS

Rencana kita hari ini adalah begini : pagi sampai siang ke Ranca Upas, sorenya berenang sampe puas di penginapan. 

“Sekilas Tentang Ranca Upas”

Wana wisata (wana = hutan) yang berada di daerah Ciwidey, Bandung. Lokasinya masih satu jalan sama Kawah Putih. Namanya aja wana wisata, yang dilihat ya hutan. Dari informasi yang kubaca sebelumnya dalam kawasan itu ada bumi perkemahan dan penangkaran rusa.

Betul aja, waktu kita memasuki areal hutan yang seperti ‘out of nowhere’ saking sepi ‘gung lewang lewung’ (kata orang Jawa nih….), beberapa ratus meter ke dalam tampak areal yang khusus untuk kemah/kemping (apa to bedanya?). Ada pekemah perorangan yang membawa keluarga atau temen akrab, kelihatan dari tenda kemahnya kecil muat 3-5 orang. Mereka ini banyak yang ndirikan tenda di bawah naungan pohonan yang tinggi dalam hutan. Wih, kayanya seru deh…pengen juga sih, tapi tandatanya : mau nggak ya anak-anakku diajak ‘hidup sengsara’ kemah di tengah hutan belantara di kaki gunung gini??

Lainnya pekemah grup. Di sekeliling danau yang ada di tengah dataran yang mirip lapangan dalam lokasi, ada cukup banyak grup pekemah. Aku perhatikan mereka asalnya dari institusi. Ada yang dari kelompok beladiri dan ada dari sekolah menengah. Mungkin lagi ujian kenaikan tingkat ya….. Dilihat dari aktivitasnya, berendam di danau, lari keliling, sampe seragamnya penuh lumuran lumpur. 

Buat yang seneng wisata alam, tempat ini rasanya cocok. Bayanganku, kalau kita datang ke sana pagi-pagi sekali mungkin bisa dapat pemandangan yang lebih berkabut. Saat itu kita datang ke sana cukup siang, cuaca juga full mendung. Rusa-rusa yang ditangkarkan di sanapun malu-malu menampakkan diri. Jadi kita cuma bisa liat mereka ngintipin kita ( atau kita yang ngintip mereka, tergantung dilihat dari sudut pandang mana…) dari atas semacam dek buat pengunjung.

“…ATV??”

Keluar dari bumi perkemahan Ranca Upas, di perjalanan muncul keinginan mendadak Ayah njajal ATV-nya Patuha Resort. Resor ini letaknya di lereng pegunungan, gerbang masuknya track ATV. Kata Ayah, biar liburannya lebih ‘nendang’……….

Siapa aja yang mau ikutan? Aku emoh! Ntar tensinya naik gawat……. Putri, palagi…..dia nih kurang cocok sama permainan ekstrim. Nah…Nisa ya? Tadinya nggak mau dia, eh setelah dibujuk rayu sama yang lain-lain mau juga. Sebenernya dia nih malu-malu aja tapi dalam hatinya keliatan kalo penasaran…..hehehe.

“Nggak papa Ade, untuk anak ada nih ATV yang matik, tinggal gas-rem aja kok gampang…..coba dulu kalo susah nanti gak jadi gak papa….” dirayu lagi dia sama yang mandu ATV. Hah? ATV matik? Ooooh, jadi ada ya? Ndeso, baru tahu nih. Ya udah nggak usah boncengan sama Ayah deh, aku kok ngeri, secara Ayah aja baru pegang kali ini, ntar kalo terguling gimana kan kasian yang dibonceng. Gimana Nis, mau??

Sebelum menuju ‘medan laga’, ‘prajurit ATV’ dilengkapi dulu dengan kostum keamanan berupa sepatu boot karet yang tinggi dan helm pengaman kepala.

Nah sebelum menuju medan yang sesungguhnya, harus belajar dulu ngendaliin ATV, maklum pengalaman pertama……… ATV yang dipake Ayah manual, katanya berat, susah dikendaliin. Belum biasa. Beberapa kali putaran latihan, beberapa kali pula hampir terguling. “Kalo jalan nanjak jangan direm…” kata pemandunya. “Kaki usahakan jangan menyentuh tanah…” katanya lagi. Tapi lumayanlah secara baru sekali-kalinya. Maju terus Yah!!

Nisa dapet ATV matik, kendaraannya lebih kecil dari yang dinaikin Ayah. Cara nyetirnya lebih gampang, tinggal gas-rem kaya naik mionya Ibu. Tapi…tetep aja grogi dia. Awalnya mules dulu…….stress kemudian. Hihihi…… Tenang Nis, maju teruuuus!

Nah, sudah cukup latihannya. It’s party time!!! Huaaaahahaha….tolooong!

Mereka berdua memasuku garis start pelan-pelan. Nggak tahu medan seperti apa yang akan dilewati di depan sana…… Satu koma enam km jalan penuh tikungan, tanjakan dan turunan curam, oleh dua orang nekat yang baru pertama nyobain ATV!

Ayah jalan duluan, diikuti pemandu. Jarak 50 meter kemudian baru Nisa, juga diikuti pemandu. Satu menit kemudian suara mesin ATV mereka sudah nggak kedengeran lagi. Waduh, kemana ya mereka? Apa yang terjadi ya? Nyemplung jurang gak ya? Atau nyusrug ke kebun stroberi orang gak ya? Waduh…kok nggak ada suaranya ya…kok lama ya….. Nggak keliaatan sih???

Sekitar 5-10 menitan kemudian, lupa juga pastinya, nunggu rasanya lama tapi nggak bisa jadi ukuran juga, terlalu subyektif. Suara ATV mulai kedengeran mendekat. Nah itu pasti Ayah……..horrrreeeee! Sampai juga ke tempat datar. Gimana Yah, asyik ngga?

Peserta kedua nggak muncul-muncul di garis finish. Waduh kenapa ya nih anak, jangan-jangan nangis lagi. Nyangkut dimana ya? Kalau menurut Ayah yang udah sampe duluan, treknya gila-gilaan buat pemula, pasti Nisa nangis. Ah masa sih separah itu ya?

Samar samar mulai kedengeran suara ATV, nah tu dia anaknya………. Masih dalam posisi duduk di atas kendaraan. Berarti kelihatannya sukses nih. Horrreee……Nisa finish! Gimana Nis, kapok?

Haduuhh…cape kan? Pulang yuk tidur dulu, katanya ntar sore masih mau berenang?

 

“Kursus Singkat Berenang…”

Cuaca sore seperti yang sudah-sudah, kabut merayap turun. Suhu makin malam makin kecil derajatnya. Bangun tidur langsung pake baju renang menyerbu kolam, tapi sebelumnya pemanasan dulu di pinggir kolam takutnya kram.

Setelah nyebur-nyebur dikit nyobain air, anak-anak dipaksa paksa naik seluncuran dulu. Masa nggak berani sih kan pendek, nggak setinggi di Waterboom. Ayu Put! Eh tumben dia mau duluan….. Waaaaaaaa…..!!!

Puas beberapa kali nyobain seluncuran kolam mulai rame. Yang mau berenang mulai berdatangan ngantri di seluncur. Pelajaran dilanjut aja : memahami perilaku ikan…… Inilah keluarga ikan yang sedang mempelajari kehidupan nenek moyangnya……..

Perhatikan perubahan pemandangan dilihat dari Kampung Pa’go ketika kabut beranjak turun……..

LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

BAGIAN  DUA

TANGGAL 28 DESEMBER 2009 : DANAU KAWAH PUTIH

Acara utama kita hari ini yaitu menuju Kawah Putih.

Sarapan dulu, setelah kenyang trus berangkat. Semalem di penginapan baru sadar ternyata tas berisi jaket yang sudah disiapin ketinggalan di Cikarang!! …….:(-…. Dari semalem aku udah kedinginan berat. Maklum penyesuaian suhu, biasa di Cikarang panas membakar trus pindah seketika ke gunung yang dingin. Ndeso..ndeso….. Untungnya selimut cukup tebel jadi lumayan anget.

Jarak tempuh dari Kampung Pa’go ke Kawah Putih nggak jauh, sekitar 20 menitan kalau lancar nggak pake macet. Sampai di Kawah Putih kabut merayap turun menyambut kita…….hwiiii, duingggin! Aku dan anak-anak  terpaksa cari penjual jaket, nggaaak kuaaat booo……nggak nyangka bakal sedingin ini efeknya buat orang Cikarang!  Untung disana banyak yang jual. Jaket, switer, syal rajut, topi rajut, ya pokoknya keperluan penghangat badan komplit. Jangan lupa tawar-menawar dulu, seni berbelanja khas Indonesia (mungkin). Makanya, buat yang mau ke Kawah Putih terutama di bulan-bulan dingin begini jangan lupa : JAKET!

Turun dari mobil udah pas waktunya makan siang. Syukurlah di parkiran berderet warung makan dan suvenir, tinggal pilih menu aja……….Aku pilih menu yang kayanya lokal banget : mi kocok kaki sapi khas Bandung, gitu judul yang dipajang, tapi ternyata setelah dihidangkan nggak ada kakinya….malah mi kocok daging sapi. Tapi sumpah uenak! Potongan dagingnya empuk dan royal, togenya banyak, kuahnya gurih. Porsinya banyak, menurut ukuran aku sih, yang kalo di Cikarang pasti aku gak bakal kuat ngabisin….ternyata salah cin, ludes! Memang cocoknya mungkin makan mi kocok ya di habitat aslinya yang cuaca dingin begitu. Maknyuzz… Minumnya bandrek, wah jann…cucok bo!

Naah…habis itu kita turun ke Kawah Putih….yuuuuk pembaca.

Oya, jangan lupa ya..supaya nggak ‘beser’ bagusnya buang air kecil dulu! Fasilitas toilet ada, bagus, bersih, tapi kurang banyak! Antrean cukup panjang waktu itu, padahal pengunjung nggak terlalu penuh. Bayangin kalo pas rame gimana tuh, bisa nahan pipis lama-lama di tempat dingin gitu? Ih, mules …… Usul saya ditambah toiletnya Pak, Bu….

Dari tempat parkir mobil turun ke kawah nggak jauh, paling cuma 50 meteran. Keliatan kok kawahnya dari atas. Tapi tetap harus hati-hati sebab turunan cukup terjal, plus oksigen yang tipis bisa bikin kepala agak puyeng. Bau gas belerang sudah tercium dari sini. Pakai alas kaki yang nyaman, jangan pakai sendal hak tinggi, mending sendal jepit aja…..atau sepatu ket. Ini wisata alam bukan wisata nampang…..nobody cares what d’you look like…..sing penting nyaman, enak, nggak bikin kaki pegel.

 

“Sekilas Tentang Kawah Putih”

Kawah Putih adalah tempat wisata di Bandung Selatan, suatu kawah yang  terbentuk dari letusan Gunung Patuha di abad ke-10 dan ke-12. Hawanya yang dingin (sekitar 8-22 derajat) harap dimaklumi sebab letak geografisnya sekitar 2000-an meter dpl. Yang pertama menemukan kawah ini dulunya adalah seorang ahli botani Belanda. Penduduk sekita Ciwidey dulunya nggak mau datang ke gunung Patuha apalagi ke kawasan kawah karena dianggap daerah angker. Saking angker dan keramatnya bahkan burung aja nggak mau terbang melintas, kalaupun burung itu nekat pasti dia mati.

Ali botani itu juga yang menyimpulkan pada penelitiannya kalau kadar belerang di daerah itu sangat tinggi. Itu rupanya yang jadi alasan kenapa burung yang terbang melintasi kawah jatuh dan mati, gas belerangnya! Jadi bukan karena angkernya…… Kesannya dulu angker mungkin juga karena nggak didatangi orang, sepi buanget jadi kan serem. Nah kalo sekarang mah…ruame pisan euy!!

 

“Eks Tambang Belerang” 

Tingginya kadar belerang di Kawah Putih, membuat pemerintah Kolonial Belanda pada masanya membuka tambang batu belerang di tempat itu. Tambang ini beralih ke pemerintahan Jepang pada jamannya. Sekarang sih tambangnya udah ditutup, tapi kita masih bisa liat pintu tambangnya yang ditutup seadanya dengan batang-batang kayu. Di depan pintu tambang yang ditutup itu memang tercium bau belerang yang suangat menyengat, makanya tidak disarankan berlama-lama di depannya, nanti bisa sesak napas karena kekurangan oksigen. Menurut penglihatanku pribadi, celah yang menutup pintu masuk eks tambang itu kurang sempit deh…..suka ada anak yang iseng masuk ke dalamnya, wong muat kok…….. Harap yang berwenang mencek lagi, supaya lebih aman aja…….

 

“Air Kawah Berubah Warna”

Katanya, warna danau Kawah Putih itu bisa berubah tergantung saat apa kita melihatnya. Sebenarnya secara ilmiahnya sih perubahan warna ini menunjukkan kadar mineral kawah pada saat itu. Dan ini dapat berubah tiap saat. Pas kami sampai sana, warna danaunya hijau kebiruan, ada uap belerang yang mengapung di atasnya. Menurut cerita orang, lain waktu warna air danau bisa menjadi coklat keruh. Pasir yang terhampar di sana dan juga bebatuannya dominan berwarna putih, jadi makanya penduduk sekitar menyebut danau itu Kawah Putih.

Lama kita nongkrong di tepi danau Kawah Putih, rasanya belum juga puas, belum ‘rela’ cabut dari sana merenungi secuil bentuk bumi kita yang tambah tua aja dan nyaris kolaps ditelan pemanasan global…… apa yang kan terjadi nanti dengan danau ini?? Apakah kurang banyak orang yang pernah tercenung di hadapan ciptaan Allah sampai dasar hati mereka muncul ke permukaan, untuk menyadari kalau awal mulanya sebelum peradaban begini maju, seperti inilah kira-kira bumi yang kita injak ini : murni, indah, sejuk, sunyi dari polusi, merdeka dalam alamnya sendiri……..

Kabut datang turun membawa serpihan air,  tak lama lalu ia naik lagi menyelinapkan sinar matahari, sampai kemudian ia turun lagi. Kita masih aja asik duduk di pinggir danau, memandang ke atas ke tebing batu tinggi yang melingkupi satu sisi kawah, trus ke rimbunan hutan yang melingkupinya di sisi lain, sehingga aku melihat kalau danau ini berada di satu cekungan bumi…… lama-lama kok aku jadi inget filmnya Leonardo Dicaprio jaman duluuu buanget…judulnya The Beach. Rasa-rasanya suasananya mirip banget sama waktu Dicaprio menemukan pantai tersembunyi di pedalaman Thailand…..ca’elah, lebay ya… Iya lho, nyaris mirip. Suasananya, heningnya, keindahan yang tertangkap……O-M-G!!

Nah, buat yang akan ke Kawah Putih untuk pertama kali, anda gak perlu khawatir tempat ini akan sulit ditempuh. Jalan menuju pintu masuk daerah wisata Kawah Putih sangat bagus mulus aspal. Begitu pula jalan dari gerbang menuju lokasi danau mulus walau sempit dan berliku, namanya juga di tepi gunung coy! Tapi kalau boleh usul mungkin nggak kalau agak dilebarin dikit, soalnya kalau dilewati mobil papasan dua arah nggak muat, harus saling ngalah. Kalau anda kesana dengan kendaraan umum atau rombongan, dari gerbang menuju kawah ada angkutan mobil.

Sampai di lokasi parkir dekat danau, jalan turun menuju pinggir danau juga bagus banget, nyaman. Aku liat banyak juga manula yang kuat jalan naik-turun kawah..hebat! Satu-satunya kritik adalah sampah yang dibuang asal lempar, terutama sampah kemasan plastik aneka warna yang sudah pasti sangat mengganggu pandangan mata.  Nah kalo ini sih memang ulah pengunjung yang perlu dididik ulang kayanya…………..Padahal  kotak sampah udah disediakan di tiap sudut, dan kulihat juga nggak penuh kok……. Jadi??  

 

“Yang Boleh Dicoba…”

Sebelum cabut, naik kembali ke parkiran kita nyambangi kios yang berderet. Ada yang jual makan, suvenir khas, stroberi segar, tapi yang menarik kita dan tampilan serta provokasinya paling boleh adalah sate stroberi segar yang dicelup ke dalam cairan coklat. Ada bermacam warna : coklat, oranye, pink dan bluberi. Penjualnya ngasih harga 10 ribu untuk seporsi isi 3 tusuk sate stroberi. Satu tusuk isinya tiga atau empat buah stroberi tergantung besarnya buah. Tapi bukan ibu-ibu namanya kalo nggak usaha..tawar cin! Dapat bonus satu jadi bisa dapat 4 tusuk. Coklatnya cair, tapi nggak berapa lama setelah stroberinya dicelupin coklat cair tadi membeku. Atasnya digarnis meises warna-warni. Menarik! Anak-anak suka…….tadinya aku males nyoba, ah! makanan anak-anak. Gak taunya enak banget, maknyuzzz….rasa asem stroberinya ketutup manisnya coklat tadi, enak nggak kecut.

Alternatif dari stroberi ada marshmallow. But I prefer strawberry for best taste!! Rasanya unik, perpaduan asam dengan manis sekali kunyah.

Camilan lainnya yang nggak kalah provokatif adalah jagung bakar. Murah meriah, enak, cocok dibuat camilan di hawa dingin. Dijamin nggak kan cukup satu. Cuma 3000 perak, bakar atau rebus sama. Mau rasa manis? Pedas? Asin? Minumannya, tentu aja bandrek, minuman khas daerah Jawa Barat yang bahan utamanya jahe dan gula merah, ditambah rempah-rempah yang racikannya berbeda tergantung daerahnya. Bandrek bisa tambah susu lebih gurih.

Previous Older Entries Next Newer Entries

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

Mind Release

Relax is the key to the higher conscience

ocehan

Just another WordPress.com site

Mata, Rasa & Kata Muadzin

Wadah. Agar tertampung. Tak terbuang.