LIBUR AKHIR TAHUN 2009 : SITU PATENGAN – KAWAH PUTIH – RANCA UPAS

 

ET CETERA

 

 

TANGGAL 30 DESEMBER 2009 : SAUNG ANGKLUNG MANG UDJO

Dua hari lagi menuju pergantian tahun 2009. Kita sudah tiga hari keliling Ciwidey. Puas sih belum, relatif. Kalau ada yang tanya ke aku, masih mau nggak kapan-kapan kemari lagi? Jawabnya : mau! Banget! Kenapa? Sebab suasana daerah sini aku suka. Pegunungannya, pemandangan hamparan kebunnya, kabutnya, dingin sejuknya, makanan khasnya, buat aku semuanya ngangenin. Ngeliat pegunungan membuka gambar baru tentang bumi yang kita injak sehari-hari, yang datar, beralas semen, keramik, berpagar beton, berangin dingin AC, kipas angin….. Gambar yang sekarang lebih indah, membumi, natural, murni, tak tersentuh teknologi moderen. Gambaran bumi kita di waktu dulu……

Jadi, ngapain kita hari ini? 

Ayah sudah punya rencana idamannya : ke Bandung. Lokasi tepatnya ke Saung Angklung Mang Udjo, di daerah Bandung Timur di jl. Padasuka. Rasa-rasanya Ayah terlalu penasaran sama tempat itu. Puter-puter kita cari lokasinya, sampai keliling dua kali di jalan yang sama! Hhhh…syukur alhamdulillah ketemu, masa enggak sih.

Sebelum masuk pintu pagar tempat ini, nggak terbayang kalau suasana di dalamnya akan rimbun dan teduh banget. Kejutan yang menyenangkan! Umpama dijadikan penginapan pun bagus. Suasana tempatnya ditata cantik, dirimbuni rumpun bambu dimana-mana sehingga teduh dan ‘homy’. Setitik oase di tengah hiruk pikuk kota Bandung, begitulah kira-kira. 

Di banyak tempat di areal ini dibangun saung dari bambu, lesehan atau juga ada yang dikasih seperangkat meja kursi, dari bambu tentunya. Ada semacam auditorium di tengah lokasi, yang sepertinya dipakai acara pementasan-pementasan yang melibatkan alat musik bambu. Ada perangkat lengkap angklung dan alat musik sejenis yang terbuat dari bambu juga di pangung. Dilengkapi pula sound sistem dan tata cahaya panggung. Katanya, tiap sore jam empat ada pertunjukan. Mungkin nanti kita nonton ya…..

Masuk lebih dalam suasana seperti di pedesaan jaman dulu. Hahhh….?? Ada sumur timba di tengah lapangan rumput, ada timbanya beneran, siapapun boleh bernostalgia : nimba cin…yuuuk. Habis mandi isi lagi kolamnya sampai penuh….hehehe…..itu cerita jaman dulu tahun 80-an. Dan di abad 20 ini masih ada disini jejaknya, di tengah kota besar!

Di satu sudut ada kandang kambing tradisional berbentuk panggung. Kambingnya mengembik-embik kalau kita datangi…hihihi, mungkin dia negur kita ya : “hei, ngapain sih kemari-mari….ganggu aku lagi santai aja….!”  Temannya si kambing juga ada, ayam kate berkeliaran di kebun.

Di mana-mana di atap saung dijalari tanaman rambat yang berbunga cantik dan kontras dengan hijau yang dominan disini. Jalan setapak disusun dari batu-batu alam yang tak beraturan bentuknya. Suara gemericik air datang dari satu sudut curug kecil alami. Lumut tumbuh di banyak tempat, di tanah dan di atas batu.

Nggak cuma tanaman yang jadi penduduk tempat ini, dekat toko suvenir ada kandang binatang isinya…kalong! Kasian cuma satu……..kan jadi nggak ada temen ngobrolnya, hehe…….

Duduk di salah satu bangunan saung, betah rasanya berlama-lama, meluruskan kaki sekaligus pikiran yang seliweran. Nggak perlu tukang pijit refleksi. Nggak perlu mandi air anget. Cukup segelas bandrek anget disruput pelan-pelan……wihhhhhh….sedddappp!  

Di tempat inipun kita bisa lihat langsung pembuatan alat musik tradisional Jawa  Barat, angklung. Bahkan kalau minat boleh beli langsung sebagai cinderamata. Berbagai kerajinan tangan terbuat dari bambu juga dijual di tempat ini, mulai dai gantungan kunci berbentuk angklung, anyaman yang dibuat dompet, tas, sendal jepit, batik khas corak Jawa Baratan, boneka wayang golek dan juga ada bermacam  hiasan dari ukiran kayu berbentuk bingkai cermin, binatang dan topeng. Semua benda berlabel “saung angklung mang udjo”.

Kalau perut dah mulai merintih, di dalam lokasi dekat pintu masuk ada rumah makan kecil, hampir nggak kelihatan. Ada dibalik tembok bata yang sudah penuh tertutup tanaman jalar warna ijo. Nggak ada tanda atau tulisannya dan kelihatannya sengaja dibuat begitu. Waktu kita kesana, menu yang tersisa tinggal ayam tulang lunak. Bolehlah! Tambah sambel dan lalapan, nasinya anget, perutnya laper…….nggak ada alasan nolak. Ada kolam ikan koi segipanjang menyambut kita masuk ke tempat makan.

  

Pulang. Hujan. Dingin. Ngantuk.

Ayah masih ngajak ke Babe. Nisa udah merengek capek….

Maghrib lewat, laper. Makan dimana ya? Coba Roemah Keboen…. Menunya komplit dari Asia, Eropa, Amerika. Enak…..no comment! Besok-besok kesini lagi eksplorasi menu.

 

BERITA DUKA

Hari ini telah berpulang ke rahmatullah, mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid. Semoga perjalanan beliau lancar menuju-Nya. Naikkan bendera merah putih setengah tiang tanda berkabung selama 7 hari penuh untuk menghormatinya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

MAMAKU KOKI HANDAL !

walaupun masakan mama nggak sekece masakan koki hotel bintang 5, tapi masakan mama tetap paling penuh cinta. aku cinta masakan mamaku!

Mind Release

Relax is the key to the higher conscience

ocehan

Just another WordPress.com site

Mata, Rasa & Kata Muadzin

Wadah. Agar tertampung. Tak terbuang.

%d bloggers like this: